Sabtu, 28 November 2015

The Black Book

“Catherin, kau benar tidak ingin ikut Ibu dan Ayah ke California?.” Tanya Nyonya Jack kepada putri sulungnya yang lebih memilih untuk dirumah sendirinan selama seminggu. Dan dijawab dengan anggukan yang sangat yakin.

“Jangan khawatir, Bu. Aku bisa menjaga diriku baik-baik.” Catherin berusaha meyakinkan kedua orang tuanya yang terlihat cemas.

“Kau yakin?” tanya Tuan Jack kali ini.

“Aku yakin Ayah. Dan ini sudah jam berapa ayah!, kalian bertiga bisa terlambat nanti!.” Pekiknya. Kemudian Ayah dengan seketika melihat arlojinya.

“Oh my God! Ini sudah jam 10! Cepat! Pesawat akan berangkat satu jam lagi!.” Tuan Jack dan istrinya melangkah dengan cepat keluar. Sementara Nelson yang masih berumur 5 tahun hanya mengekor dengan memegangi baju belakang ayahnya. Catherin geleng-geleng kepala melihatnya.

“Catherin! Jaga dirimu baik-baik! Dan jangan pernah masuk kedalam loteng apapun yang terjadi!!” teriak nyonya Jack dari dalam mobil.

“Aku tau ibu! jaga diri kalian juga!!” Catherin cukup geram karna Ibunya selalu saja menasehatinya agar jangan pernah memasuki loteng di lantai 3. Dan jika ia bertanya alasannya dia pasti akan mengalihkan topik pembicaraan.

“Huh!!Mereka kini sudah pergi! Sekarang aku bisa dengan tenang menulis tanpa ada gangguan dari Nelson!” ucapnya sumringah.


“Apa akan baik-baik saja meninggalkannya? Bagaimana jika dia benar-benar memasuki loteng?” Tanya nyonya Jack kepada suaminya yang fokus menyetir.

“Tenang saja. Catherin adalah gadis berumur 16 tahun yang penakut. Dia tidak akan berani naik kelantai 3 sendiri.” Jawab Tuan Jack meyakinkan.

“Tapi dia gadis yang sangat keras kepala!” Tuan Jack kali ini memandang istrinya sekilas. Sekarang kecemasan mereka pun bertambah.

“Dan mau sampai kapan kita mau menutup-nutupi soal buku itu? semakin kau melarangnya dia pasti akan semakin penasaran. Jadi biarlah jika dia memang benar-benar membuka buku itu.” Mata nyonya Jack berubah menajam kearah suaminya. Kini tuan Jack semakin mempercepat kecepatan mobilnya dijalan yang sepi.

“Andai saja buku itu bisa dimusnahkan dan hilang dari sekitar kita.” Gumam Nyonya Jack pelan.

“Sudahlah sayang. Lagipula Catherin anak yang baik. Jadi buku itu tidak akan membawa anak kita ketempat yang buruk.” Tetap saja. Kedua hati mereka masih cemas.


Catherin saat ini sedang sangat serius dengan Laptopnya. Mengetik kata demi kata untuk novel pertama yang ia buat dengan Genre Fantasi dan Misteri yang sangat ia suka. Saat keadaan rumah seperti inilah ide sangat lancar mengalir dikepalanya.

KRUK KRUK KRUK

“Akh! Sangat tidak bisa diajak kompromi!” cecarnya dengan memegangi perut. Ia lalu beranjak dari atas sofa menuju dapur. Catherin hanya mengambil sebuah apel merah segar lalu kemudian menuju sofa lagi.

Dia mulai mengetik lagi seraya memakan apelnya. Sesekali ia berhenti sekedar untuk berfikir.


BRAK!!!

“Ya Tuhan!?” terdengar seperti benda jatuh dari lantai atas dengan bunyi yang sangat keras. Entah lantai 2 atau 3. Catherin mendekap tubuhnya ketakutan.

“Suara apa itu tadi?” Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Dia takut tapi sangat penasaran. Dengan sifat keras kepalanya itu Catherin memberanikan diri untuk melihat keadaan lantai atas. Walaupun dengan langkah yang sangat perlahan dan was-was.

Ia mengedarkan padangannya ke penjuru lantai 2. Tak ada sesuatu yang terjadi. Di lantai dua hanya ada ruang keluarga dan dua kamar. Kamarnya dan adiknya. Setiap lantai cahayanya berbeda. semakin atas semakin temaram.

“Ya Tuhan, apa aku harus benar-benar kelantai tiga?!” Catherin memandang tangga menuju lantai tiga yang sangat temaram. Di lantai 3 lampu berkedip-kedip seakan meminta untuk diganti yang baru.

“Kalau suara itu dari lantai 3, kenapa suaranya bisa sampai bawah dan juga bunyinya keras?.” Kedua tangannya semakin meremas celana panjangnya dengan semakin erat.

“Aku harus memastikannya!” Rasa penasaran Catherin tidak akan hilang dengan cepat jika tidak segera melihat apa yang terjadi.

“Setelah ini aku harus bilang Ibu dan Ayah untuk mengganti lampunya. Bisa konslet kalau seperti ini.” Catherin menggumam saat sampai di lantai tiga. Jantungnya berpacu sangat cepat. Sejujurnya ia sangat takut berada disini, sendirian.

Catherin mengedarkan pandangannya. Ada satu pintu berwarna cokelat tua di sudut ruangan. Lantai tiga ini hanya didominasi rak-rak buku dan alat-alat rumah tangga tak terpakai. Maklum, Nyonya Jack dan suaminya adalah dosen di salah satu universitas ternama di New York.

Catherin mencoba mendekati pintu itu. Dan sekarang Ia sudah memegang knop pintu dengan sangat gemetar.

“Apa ini pintu lotengnya?” lirihnya lalu membuka perlahan pintu itu.
Keadaannya sangat gelap. Dengan gerak cepat ia mencari sakelar lampu. Dan, KLIK!

“R-ruangan apa ini?!! Apa loteng menurut ibu seperti ini?!” Catherin tercekat saat pertama kali melihat ruangan yang selalu ibu larang untuk memasukinya.

“Banyak sekali bukunya! Aku bisa puas baca kalau begini!” Catherin mulai menuruni anak tangga dan berjalan memasuki loteng yang seperti perpustakaan di Museum, sangat besar. Apalagi rak-raknya sangat kokoh berdiri sangat tinggi.

Catherin tidak sadar jika dia sedang memasuki alam lain. Ia bahkan tidak sadar dengan ukuran rumahnya yang bahkan tidak sebesar perpustakaan ini.

Setelah beberapa menit melihat perpustakkan ini dengan kekaguman. Catherin mencoba mengambil satu buku diantara buku-buku yang lain.

'The Prince of Hungarian', Catherin pun membuka lembar pertama buku itu.

(Saat kau membaca buku ini. Kau diharuskan memilih salah satu dari pilihan dibawah ini. Jika kau memilih ‘Masuk’, secara otomatis kau akan masuk kedalam cerita dan menjadi tokoh utama. Karakter akan dipilihkan sesuai dengan karakter pembaca. Dan jika kau pilih ‘Baca’, kau harus membaca buku itu. Minimal satu bab. Jika kau melanggar, secara otomatis kau akan masuk kedalam cerita itu. Untuk pilihan yang ketiga adalah ‘Keluar’. Jadi pikirkanlah dulu saat kau akan memulai.)

“Buku macam apa ini? aneh!” Catherin pun menaruh buku itu lagi ketempat semula. Dan mengambil buku lagi namun dirak yang berbeda.

“(menaruh buku lagi dan lagi)” sudah lebih dari lima kali Catherin melakukan hal yang sama dalam waktu yang singkat.

“Aargghh!! Kenapa semua buku depannya sama semua?!!” Catherin merasa frustasi. Ia merasa semua buku disini sangat aneh dan tidak masuk akal. 

Seseorang berjas hitam tampak memperhatikan Catherin. Dia terlihat seperti kakek-kakek. Tapi Catherin tidak menyadari kehadirannya.

Catherin pun mengambil satu buku lagi. Di rak yang sama saat dia mengambil buku pertama.

'The Black Book', Catherin mengedarkan pandangannya. Ia baru sadar kalau semua buku di perpustakaan ini berwarna hitam tanpa motif. Hanya ada judul!.

Awal dari buku ini sama. Tapi ada beberapa kalimat tambahan dibawahnya.

(The Black Book ini adalah buku pertama dari buku-buku lain. Buku ini akan membawa mu menuju masa lalu kisah si Penyihir Ben. Si pencipta kisah-kisah yang ada di buku hitam lainnya.

“Ini gila! Mana mungkin semua buku disini  penciptanya hanya satu orang?!”

“Kenapa kau tidak yakin?” Celetuk kakek yang sudah memperhatikan Catherin saat pertama kali masuk.

“A—“ Lidah Catherin mengelu. Ia ingin sekali teriak tapi tidak bisa. Kakek itu tersenyum padanya.

“Tenanglah Catherin, aku adalah kakek ayahmu.” Jelas sang Kakek.

“A-apa semua ini?” Catherin mulai membuka suara. Kakek itu berjalan kearah sebuah meja. Seperti tempat membaca. Dan kemudian mulai duduk.

“Semua buku disini bukan hanya sekedar buku biasa. Saat kau membaca buku itu kau akan tau semua apa maksudnya. Aku menyarankan, kau harus membaca dulu buku apapun yang ada disini. Dan jika kau suka, kau bisa memasuki kisah di buku itu.” Ujar sang kakek. Catherin lantas memandang buku itu lagi. Sekarang baginya buku ini sangat menakjubkan.

“Kakek?! Kakek?!!” Catherin mencari-cari kakek itu ke setiap sudut ruangan. Tapi hasilnya nihil. Bulu romanya kini sudah semakin merinding. Ia pun bergegas keluar dari ruangan itu.
Saat sampai didepan pintu Catherin menyadari sesuatu.

“Aku rasa rumahku tidak sebesar itu...” gumamnya kemudian membuka lagi pintu yang ada dibelakangnya.

“Astaga! Perpustakaan tadi dimana?!” Keadaan dari loteng itu kini benar-benar seperti loteng. Penuh barang-barang dan kotor. Namun ada satu rak buku bertengger disana.

“Apa karna aku membawa buku ini? Rasanya begitu.” Catherin mulai yakin. Ia akan membaca buku itu.


KRING KRING KRING!

Dengan sigap dan cepat Catherin langsung mengangkat gagang telpon yang ada disamping sofanya.

"Catherin, kau baik-baik saja disana?” Tanya sang Ibu dari sebrang tampak cemas.

“Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku. Apa Bibi Jane sudah lebih baik sekarang?”

“Sekarang dia sudah lebih sehat. Catherin, kau tidak mencoba untuk masuk ke loteng, kan?” Inilah pertanyaan yang sebenarnya dari Nyonya Jack.

“Ibu! Kenapa ibu selalu bicara seperti itu?. Lagipula apa salahnya jika aku kesana?! Kau selalu melarangku tanpa pernah memberi alasan yang jelas!”

“Catherin...” Suaranya terdengar melemah.

“Ibu? Ibu baik-baik saja?!”

“Ibu mohon... Jika kau benar-benar kesana, jangan pernah baca buku apapun dari sana. Ibu akan menjelaskan semuanya padamu saat sudah pulang.”

“Ibu... cepatlah pulang.” Catherin menahan kata-katanya. Ia tidak akan memberitahu ibunya jika ia sudah ke loteng. Jadi dia akan memberitahunya saat mereka sudah pulang.

“Baik Catherin. Besok kami akan pulang.”

“Baiklah. Dah!” suara telpon terputus. Suana kini kembali hening. Catherin pun memandang lagi buku yang ada didepannya.

“Aku tidak mengerti semua ini. Pasti ada hal besar yang mereka sembunyikan dariku.”


TING NONG!

“Ibu!” Dengan langkah cepat Catherin langsung berlari menuju pintu dan membukanya.

“Ibu, Ayah, Nelson!! Aku rindu kalian!” Catherin memeluk Ibunya.

“Kakak menyebalkan! Kami baru saja pergi selama tiga hari!.” Celetuk Nelson yang tampaknya geram sudah diharuskan pulang sebelum seminggu karna Nelson jadi tidak bisa bermain-main dengan domba-domba milik Bibi Jane.

“Sudah! Sudah!” Ayah menengahi. 

“Ibu, ayo ikut aku!” Tanpa berfikir panjang Catherin menarik Ibunya untuk membawanya ke kamar. Tuan Jack memandang mereka masa bodo dan lebih memilih untuk tidur karna lelah.


Terlihat sebuah buku hitam terdapat diatas ranjang Catherin.

“Catherin!!!” Teriak sang Ibu geram. Catherin menutup kedua telinganya.

“Ibu kan sudah bilang berkali-kali jangan pernah masuk kedalam sana!!”

“T-tapi Ibu. Saat itu...” Catherin menceritakan bagaimana awalnya ia memasuki loteng itu. Dan intinya tetap saja. Semua itu karna Catherin sangat penasaran
.
“Tapi, Bu, kenapa kau selalu melarangnya?. Saat aku bertemu kakek itu. Kakek itu tidak bertindak jahat padaku?.”

“Catherin... Dia itu jahat! Dialah si Penyihir Ben itu. Dan asal kau tau. Dia akan menjebak siapapun untuk masuk kedalam cerita. Dan semua cerita yang ada disana itu berbau kekerasan.” Catherin terkejut.

“Bagaimana mungkin? Dia mengaku bahwa dia adalah Kakek Catherin,

"Itulah, Dia memang pembohong besar."

"Ibu... Kalau begitu kenapa kita tidak pindah rumah saja?” Dia yakin apa yang dibicarakan Ibunya. Ibunya menatap sendu putrinya.

“Sudah, bahkan sudah berkali-kali. Tapi setelah itu keluarga kita akan mengalami masalah bertubi-tubi yang datang tiba-tiba. Ibu dan ayah berfikir jika itu terjadi karna kami meninggalkan rumah ini.”

“Ibu maafkan aku. Lalu sekarang bagaimana dengan buku ini?. Kakek itu bilang, buku ini adalah awal dari semua buku yang Penyihir Ben buat.” Nyonya Jack memandang buku hitam yang ada disampingnya.

“Catherin! Kau berhasil menemukan buku ini!!!” Catherin tersentak. Ibunya kenapa?

“Ada apa dengan mu, Ibu?”

“Buku The Black Book ini adalah inti dari semua cerita kekerasan yang dia buat. Jika kita membakar buku ini, semua buku yang dia ciptakan akan musnah!.” Ujar Nyonya Jack antusias.

“Benarkah?” Ibunya mengangguk pasti. Nyonya Jack kini membawa buku itu keluar rumah dengan langkah yang cepat. Catherin mengekor di belakang.

“Kita harus membakar buku ini!” Pekik Nyonya Jack yakin seraya memandang buku yang sudah berada di dalam tong sampah berisi daun kering. Ia mulai menyulutkan korek api kayu ditangannya. Sebelumnya dia juga sudah menuangkan bensin ke dalam tong.

Nyonya Jack membulatkan matanya sangat terkejut.

Buku itu tidak terbakar!

“Ibu!” pekik Catherin. Nyonya Jack terdiam membisu. Dari kejauhan Tuan Jack tampak memperhatikan mereka dengan wajah sendu.

“Kalian tidak akan bisa memusnahkan buku itu dengan cara semudah itu.” Lirih Tuan Jack.
Nyonya Jack memandang buku itu sendu bercampur kecewa.

“Sekeras apapun kalian berusaha memusnahkan buku ini. Kalian tidak akan pernah bisa kecuali salah satu dari kalian harus memasuki salah satu dari cerita ku.” Ucap seorang kakek tua dengan wajah jahat dari dalam buku itu kemudian menghilang seiring dengan tawa jahatnya.

“Dia kakek yang aku temui waktu itu di Loteng, Bu!”

“Jangan! tak ada yang ku izinkan siapapun untuk masuk kedalam semua cerita terkutuknya itu!.” Sergah Tuan Jack tiba-tiba.

“Semua akhir dalam ceritanya adalah kematian. Aku takut jika ada orang yang memasuki cerita itu tidak akan pernah kembali lagi.” Istri dan anaknya memandangnya sedih.

“Ayah...” Lirih Catherin. Mereka bertiga kini memandang buku terkutuk itu dengan kebencian. Tuan Jack merasa sangat bersalah dengan semua yang telah terjadi. Kini mereka harus menjalani kehidupadan mereka dengan dikelilingi rasa takut akan buku itu.

Andai saja dulu Tuan Jack tak menerima Buku itu. Mungkin semuanya tak akan seperti ini...



To Be Continue...

***

Awalnya Cerpen ini cuma diniatin buat di Publish di Grub KBM (Komunitas Bisa Menulis). Tapi ada seseorang yang komen kalau cerita ini bagus kalau di buat lebih panjang lagi. Agak ngefly sih, But I Will do it. Hehe ^^