“Catherin, kau benar tidak ingin ikut Ibu dan Ayah ke
California?.” Tanya Nyonya Jack kepada putri sulungnya yang lebih memilih untuk
dirumah sendirinan selama seminggu. Dan dijawab dengan anggukan yang sangat
yakin.
“Jangan khawatir, Bu. Aku bisa menjaga diriku baik-baik.”
Catherin berusaha meyakinkan kedua orang tuanya yang terlihat cemas.
“Kau yakin?” tanya Tuan Jack kali ini.
“Aku yakin Ayah. Dan ini sudah jam berapa ayah!, kalian
bertiga bisa terlambat nanti!.” Pekiknya. Kemudian Ayah dengan seketika melihat
arlojinya.
“Oh my God! Ini sudah jam 10! Cepat! Pesawat akan berangkat
satu jam lagi!.” Tuan Jack dan istrinya melangkah dengan cepat keluar.
Sementara Nelson yang masih berumur 5 tahun hanya mengekor dengan memegangi
baju belakang ayahnya. Catherin geleng-geleng kepala melihatnya.
“Catherin! Jaga dirimu baik-baik! Dan jangan pernah masuk
kedalam loteng apapun yang terjadi!!” teriak nyonya Jack dari dalam mobil.
“Aku tau ibu! jaga diri kalian juga!!” Catherin cukup geram
karna Ibunya selalu saja menasehatinya agar jangan pernah memasuki loteng di
lantai 3. Dan jika ia bertanya alasannya dia pasti akan mengalihkan topik
pembicaraan.
“Huh!!Mereka kini sudah pergi! Sekarang aku bisa dengan
tenang menulis tanpa ada gangguan dari Nelson!” ucapnya sumringah.
“Apa akan baik-baik
saja meninggalkannya? Bagaimana jika dia benar-benar memasuki loteng?” Tanya
nyonya Jack kepada suaminya yang fokus menyetir.
“Tenang saja. Catherin
adalah gadis berumur 16 tahun yang penakut. Dia tidak akan berani naik kelantai
3 sendiri.” Jawab Tuan Jack meyakinkan.
“Tapi dia gadis yang
sangat keras kepala!” Tuan Jack kali ini memandang istrinya sekilas.
Sekarang kecemasan mereka pun bertambah.
“Dan mau sampai kapan
kita mau menutup-nutupi soal buku itu? semakin kau melarangnya dia pasti akan
semakin penasaran. Jadi biarlah jika dia memang benar-benar membuka buku itu.” Mata
nyonya Jack berubah menajam kearah suaminya. Kini tuan Jack semakin mempercepat
kecepatan mobilnya dijalan yang sepi.
“Andai saja buku itu
bisa dimusnahkan dan hilang dari sekitar kita.” Gumam Nyonya Jack pelan.
“Sudahlah sayang.
Lagipula Catherin anak yang baik. Jadi buku itu tidak akan membawa anak kita
ketempat yang buruk.” Tetap saja. Kedua hati mereka masih cemas.
Catherin saat ini sedang sangat serius dengan Laptopnya.
Mengetik kata demi kata untuk novel pertama yang ia buat dengan Genre Fantasi
dan Misteri yang sangat ia suka. Saat keadaan rumah seperti inilah ide sangat
lancar mengalir dikepalanya.
KRUK KRUK KRUK
“Akh! Sangat tidak bisa diajak kompromi!” cecarnya dengan memegangi perut. Ia lalu beranjak dari atas sofa menuju dapur. Catherin hanya
mengambil sebuah apel merah segar lalu kemudian menuju sofa lagi.
Dia mulai mengetik lagi seraya memakan apelnya. Sesekali ia
berhenti sekedar untuk berfikir.
BRAK!!!
“Ya Tuhan!?” terdengar seperti benda jatuh dari lantai atas
dengan bunyi yang sangat keras. Entah lantai 2 atau 3. Catherin mendekap
tubuhnya ketakutan.
“Suara apa itu tadi?” Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Dia takut tapi sangat penasaran. Dengan sifat keras kepalanya itu Catherin
memberanikan diri untuk melihat keadaan lantai atas. Walaupun dengan langkah
yang sangat perlahan dan was-was.
Ia mengedarkan padangannya ke penjuru lantai 2. Tak ada
sesuatu yang terjadi. Di lantai dua hanya ada ruang keluarga dan dua kamar.
Kamarnya dan adiknya. Setiap lantai cahayanya berbeda. semakin atas semakin temaram.
“Ya Tuhan, apa aku harus benar-benar kelantai tiga?!”
Catherin memandang tangga menuju lantai tiga yang sangat temaram. Di lantai 3 lampu berkedip-kedip seakan meminta untuk diganti yang baru.
“Kalau suara itu dari lantai 3, kenapa suaranya bisa sampai
bawah dan juga bunyinya keras?.” Kedua tangannya semakin meremas celana
panjangnya dengan semakin erat.
“Aku harus memastikannya!” Rasa penasaran Catherin tidak
akan hilang dengan cepat jika tidak segera melihat apa yang terjadi.
“Setelah ini aku harus bilang Ibu dan Ayah untuk mengganti lampunya. Bisa konslet kalau seperti ini.” Catherin menggumam saat sampai di lantai tiga. Jantungnya berpacu sangat cepat. Sejujurnya ia
sangat takut berada disini, sendirian.
Catherin mengedarkan pandangannya. Ada satu pintu berwarna cokelat
tua di sudut ruangan. Lantai tiga ini hanya didominasi rak-rak buku dan alat-alat rumah tangga tak terpakai. Maklum,
Nyonya Jack dan suaminya adalah dosen di salah satu universitas ternama di New
York.
Catherin mencoba mendekati pintu itu. Dan sekarang Ia sudah memegang knop pintu dengan sangat
gemetar.
“Apa ini pintu lotengnya?” lirihnya lalu membuka perlahan
pintu itu.
Keadaannya sangat gelap. Dengan gerak cepat ia mencari
sakelar lampu. Dan, KLIK!
“R-ruangan apa ini?!! Apa loteng menurut ibu seperti ini?!”
Catherin tercekat saat pertama kali melihat ruangan yang selalu ibu larang
untuk memasukinya.
“Banyak sekali bukunya! Aku bisa puas baca kalau begini!”
Catherin mulai menuruni anak tangga dan berjalan memasuki loteng yang seperti perpustakaan di Museum, sangat besar. Apalagi rak-raknya sangat kokoh berdiri sangat tinggi.
Catherin tidak sadar jika dia sedang memasuki alam lain. Ia
bahkan tidak sadar dengan ukuran rumahnya yang bahkan tidak sebesar
perpustakaan ini.
Setelah beberapa menit melihat perpustakkan ini dengan
kekaguman. Catherin mencoba mengambil satu buku diantara buku-buku yang lain.
'The Prince of
Hungarian', Catherin pun membuka lembar pertama buku itu.
(Saat kau membaca buku
ini. Kau diharuskan memilih salah satu dari pilihan dibawah ini. Jika kau
memilih ‘Masuk’, secara otomatis kau akan masuk kedalam cerita dan menjadi
tokoh utama. Karakter akan dipilihkan sesuai dengan karakter pembaca. Dan jika
kau pilih ‘Baca’, kau harus membaca buku itu. Minimal satu bab. Jika kau
melanggar, secara otomatis kau akan masuk kedalam cerita itu. Untuk pilihan
yang ketiga adalah ‘Keluar’. Jadi pikirkanlah dulu saat kau akan memulai.)
“Buku macam apa ini? aneh!” Catherin pun menaruh buku itu
lagi ketempat semula. Dan mengambil buku lagi namun dirak yang berbeda.
“(menaruh buku lagi dan lagi)” sudah lebih dari lima kali
Catherin melakukan hal yang sama dalam waktu yang singkat.
“Aargghh!! Kenapa semua buku depannya sama semua?!!” Catherin
merasa frustasi. Ia merasa semua buku disini sangat aneh dan tidak masuk akal.
Seseorang berjas hitam tampak memperhatikan Catherin. Dia terlihat seperti
kakek-kakek. Tapi Catherin tidak menyadari kehadirannya.
Catherin pun mengambil satu buku lagi. Di rak yang sama saat
dia mengambil buku pertama.
'The Black Book', Catherin
mengedarkan pandangannya. Ia baru sadar kalau semua buku di perpustakaan ini
berwarna hitam tanpa motif. Hanya ada judul!.
Awal dari buku ini sama. Tapi ada beberapa kalimat tambahan
dibawahnya.
(The Black Book ini
adalah buku pertama dari buku-buku lain. Buku ini akan membawa mu menuju masa
lalu kisah si Penyihir Ben. Si pencipta kisah-kisah yang ada di buku hitam
lainnya.
“Ini gila! Mana mungkin semua buku disini penciptanya hanya satu orang?!”
“Kenapa kau tidak yakin?” Celetuk kakek yang sudah memperhatikan
Catherin saat pertama kali masuk.
“A—“ Lidah Catherin mengelu. Ia ingin sekali teriak tapi
tidak bisa. Kakek itu tersenyum padanya.
“Tenanglah Catherin, aku adalah kakek ayahmu.” Jelas sang
Kakek.
“A-apa semua ini?” Catherin mulai membuka suara. Kakek itu
berjalan kearah sebuah meja. Seperti tempat membaca. Dan kemudian mulai duduk.
“Semua buku disini bukan hanya sekedar buku biasa. Saat kau
membaca buku itu kau akan tau semua apa maksudnya. Aku menyarankan, kau harus membaca dulu
buku apapun yang ada disini. Dan jika kau suka, kau bisa memasuki kisah di buku
itu.” Ujar sang kakek. Catherin lantas memandang buku itu lagi. Sekarang
baginya buku ini sangat menakjubkan.
“Kakek?! Kakek?!!” Catherin mencari-cari kakek itu ke setiap
sudut ruangan. Tapi hasilnya nihil. Bulu romanya kini sudah semakin merinding.
Ia pun bergegas keluar dari ruangan itu.
Saat sampai didepan pintu Catherin menyadari sesuatu.
“Aku rasa rumahku tidak sebesar itu...” gumamnya kemudian
membuka lagi pintu yang ada dibelakangnya.
“Astaga! Perpustakaan tadi dimana?!” Keadaan dari loteng itu
kini benar-benar seperti loteng. Penuh barang-barang dan kotor. Namun ada satu
rak buku bertengger disana.
“Apa karna aku membawa buku ini? Rasanya begitu.” Catherin
mulai yakin. Ia akan membaca buku itu.
KRING KRING KRING!
Dengan sigap dan cepat Catherin langsung mengangkat gagang
telpon yang ada disamping sofanya.
"Catherin, kau
baik-baik saja disana?” Tanya sang Ibu dari sebrang tampak cemas.
“Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku. Apa Bibi Jane
sudah lebih baik sekarang?”
“Sekarang dia sudah
lebih sehat. Catherin, kau tidak mencoba untuk masuk ke loteng, kan?” Inilah
pertanyaan yang sebenarnya dari Nyonya Jack.
“Ibu! Kenapa ibu selalu bicara seperti itu?. Lagipula apa
salahnya jika aku kesana?! Kau selalu melarangku tanpa pernah memberi alasan
yang jelas!”
“Catherin...” Suaranya
terdengar melemah.
“Ibu? Ibu baik-baik saja?!”
“Ibu mohon... Jika kau
benar-benar kesana, jangan pernah baca buku apapun dari sana. Ibu akan
menjelaskan semuanya padamu saat sudah pulang.”
“Ibu... cepatlah pulang.” Catherin menahan kata-katanya. Ia
tidak akan memberitahu ibunya jika ia sudah ke loteng. Jadi dia akan
memberitahunya saat mereka sudah pulang.
“Baik Catherin. Besok
kami akan pulang.”
“Baiklah. Dah!” suara telpon terputus. Suana kini kembali
hening. Catherin pun memandang lagi buku yang ada didepannya.
“Aku tidak mengerti semua ini. Pasti ada hal besar yang
mereka sembunyikan dariku.”
TING NONG!
“Ibu!” Dengan langkah cepat Catherin langsung berlari menuju
pintu dan membukanya.
“Ibu, Ayah, Nelson!! Aku rindu kalian!” Catherin memeluk Ibunya.
“Kakak menyebalkan! Kami baru saja pergi selama tiga hari!.”
Celetuk Nelson yang tampaknya geram sudah diharuskan pulang sebelum seminggu karna Nelson jadi tidak bisa bermain-main dengan domba-domba milik Bibi Jane.
“Sudah! Sudah!” Ayah menengahi.
“Ibu, ayo ikut aku!” Tanpa berfikir panjang
Catherin menarik Ibunya untuk membawanya ke kamar. Tuan Jack memandang mereka
masa bodo dan lebih memilih untuk tidur karna lelah.
Terlihat sebuah buku hitam terdapat diatas ranjang Catherin.
“Catherin!!!” Teriak sang Ibu geram. Catherin menutup kedua
telinganya.
“Ibu kan sudah bilang berkali-kali jangan pernah masuk
kedalam sana!!”
“T-tapi Ibu. Saat itu...” Catherin menceritakan bagaimana
awalnya ia memasuki loteng itu. Dan intinya tetap saja. Semua itu karna
Catherin sangat penasaran
.
“Tapi, Bu, kenapa kau selalu melarangnya?. Saat aku bertemu
kakek itu. Kakek itu tidak bertindak jahat padaku?.”
“Catherin... Dia itu jahat! Dialah si Penyihir Ben itu. Dan
asal kau tau. Dia akan menjebak siapapun untuk masuk kedalam cerita. Dan semua
cerita yang ada disana itu berbau kekerasan.” Catherin terkejut.
“Bagaimana mungkin? Dia mengaku bahwa dia adalah Kakek Catherin,
"Itulah, Dia memang pembohong besar."
"Ibu... Kalau begitu kenapa kita tidak
pindah rumah saja?” Dia yakin apa yang dibicarakan Ibunya. Ibunya menatap sendu
putrinya.
“Sudah, bahkan sudah berkali-kali. Tapi setelah itu keluarga
kita akan mengalami masalah bertubi-tubi yang datang tiba-tiba. Ibu dan ayah
berfikir jika itu terjadi karna kami meninggalkan rumah ini.”
“Ibu maafkan aku. Lalu sekarang bagaimana dengan buku ini?.
Kakek itu bilang, buku ini adalah awal dari semua buku yang Penyihir Ben buat.”
Nyonya Jack memandang buku hitam yang ada disampingnya.
“Catherin! Kau berhasil menemukan buku ini!!!” Catherin
tersentak. Ibunya kenapa?
“Ada apa dengan mu, Ibu?”
“Buku The Black Book ini adalah inti dari semua cerita
kekerasan yang dia buat. Jika kita membakar buku ini, semua buku yang dia
ciptakan akan musnah!.” Ujar Nyonya Jack antusias.
“Benarkah?” Ibunya mengangguk pasti. Nyonya Jack kini
membawa buku itu keluar rumah dengan langkah yang cepat. Catherin mengekor di
belakang.
“Kita harus membakar buku ini!” Pekik Nyonya Jack yakin
seraya memandang buku yang sudah berada di dalam tong sampah berisi daun
kering. Ia mulai menyulutkan korek api kayu ditangannya. Sebelumnya dia juga
sudah menuangkan bensin ke dalam tong.
Nyonya Jack membulatkan matanya sangat terkejut.
Buku itu tidak terbakar!
“Ibu!” pekik Catherin. Nyonya Jack terdiam membisu. Dari
kejauhan Tuan Jack tampak memperhatikan mereka dengan wajah sendu.
“Kalian tidak akan bisa memusnahkan buku itu dengan cara semudah itu.” Lirih
Tuan Jack.
Nyonya Jack memandang buku itu
sendu bercampur kecewa.
“Sekeras apapun kalian berusaha
memusnahkan buku ini. Kalian tidak akan pernah bisa kecuali salah satu dari
kalian harus memasuki salah satu dari cerita ku.” Ucap seorang kakek tua dengan wajah jahat dari
dalam buku itu kemudian menghilang seiring dengan tawa jahatnya.
“Dia kakek yang aku temui waktu itu di Loteng, Bu!”
“Jangan! tak ada yang ku izinkan
siapapun untuk masuk kedalam semua cerita terkutuknya itu!.” Sergah Tuan Jack
tiba-tiba.
“Semua akhir dalam ceritanya
adalah kematian. Aku takut jika ada orang yang memasuki cerita itu tidak akan
pernah kembali lagi.” Istri dan anaknya memandangnya sedih.
“Ayah...” Lirih Catherin. Mereka
bertiga kini memandang buku terkutuk itu dengan kebencian. Tuan Jack merasa
sangat bersalah dengan semua yang telah terjadi. Kini mereka harus menjalani
kehidupadan mereka dengan dikelilingi rasa takut akan buku itu.
Andai saja dulu Tuan Jack tak menerima Buku itu. Mungkin semuanya tak akan seperti ini...
To Be Continue...
***
Awalnya Cerpen ini cuma diniatin buat di Publish di Grub KBM (Komunitas Bisa Menulis). Tapi ada seseorang yang komen kalau cerita ini bagus kalau di buat lebih panjang lagi. Agak ngefly sih, But I Will do it. Hehe ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar